Loading

Mengenal Akhlak dan Adab

Ilmu  akhlak merupakan bagian dari pembahasan dalam hikmah amali (filsafat amal), di samping ilmu keluarga dan kemasyarakatan (siyasah). Biasanya, ilmu akhlak dipahami sebagai ilmu yang mempersoalkan bagaimana seharusnya kita hidup. Atau, dalam rumusan lain, ilmu mengenai  bagaimana berperilaku yang baik.

            Pengertian ini berlaku sepanjang menyangkut insan bagaimana yang harus bertindak (beramal). Ini bertolak dari adanya pemahaman yang absolut dan general terhadap ilmu akhlak pada diri insan tersebut.
Adapun bila persoalannya adalah pada penggunaan ilmu tersebut sebagai pembimbing (petunjuk) untuk hidup (beramal) secara baik, maka pengertian ini tidak relevan. Artinya, ilmu akhlak harus meletakkan insan-pelaku sebagai cerminan ilmu, bukan sebaliknya.
            Lebih lanjut, dapat diperoleh sebuah pengertian bahwa perbuatan yang sesuai dengan kriteria akhlak meng-atas-i perbuatan biasa (alami). Unsur penyebabnya adalah, antara lain,  adanya ikhtiar si pelaku dalam mewujudkannya serta adanya kandungan nilai-nilai keagungan dan kemuliaan di dalamnya.
Tambahan lagi, pembahasan mengenai ilmu akhlak pada dasarnya memiliki dua aspek: bagaimana mewujudkannya dan bagaimana sebelumnya. Persoalan untuk mewujudkan perbuatan yang akhlaki erat kaitannya dengan ilmu akhlak itu sendiri. Sedangkan persoalan mengenai motivasi berakhlak dikembalikan pada kemauan dan kesanggupan insan itu sendiri, yang tentunya juga  harus didasari dengan ilmu tentang insan dan kehidupan.

Akhlak
            Rasulullah saww bersabda, “Berpeganglah kalian kepada akhlak yang mulia, sesungguhnya Tuhanku mengutus aku dengannya.”
            Ilmu akhlak merupakan sebuah spesialisasi, yang di dalamnya dibahas tentang potensi manusia yang berhubungan dengan kekuatan syahwaniyyah (syahwat), ghadhabiyyah (amarah), dan fikr (pikir). Ilmu tersebut juga membedakan antara sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat rendah manusia, sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan nilai manusiawinya.
            Dalam hidupnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari pencariannya atas sesuatu, seperti makan, minum, dan beristirahat, yang semuanya didorong oleh kekuatan syahwani. Begitu juga, dari upaya untuk menghindar dari sesuatu, seperti sakit, kerja keras, dan sebagainya, yang didorong oleh kekuatan ghadhabi. Juga, dari kekuatan fikr seperti berhujah, yang didorong oleh kekuatan fikr dalam diri manusia.
            Ilmu akhlak mengajarkan kepada manusia agar menjaga keseimbangan semua potensi tersebut, agar mereka dapat mencapai kemuliaan dan terhindar dari segala bentuk kehinaan. Artinya, seluruh kekuatan tersebut harus selalu dijaga keseimbangannya, sehingga tidak melewati batas (ifrad) dan kurang dari yang semestinya (tafrid).
            Dalam pada itu, dengan menjaga keseimbangan ketiga kekuatan yang mereka miliki itu, manusia akan memiliki empat nilai kesempurnaan akhlak, yang menjadi dasar atau  ushul dari sifat-sifat terpuji lainnya.
Dengan menjaga keseimbangan kekuatan syahwaninya, manusia akan memiliki harga (kemuliaan) diri. Sementara perlakuan ifrad terhadapnya akan menumbuhkan keserakahan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan menimbulkan rasa rendah diri.
            Dengan menjaga keseimbangan kekuatan ghadhabinya, manusia akan memiliki sifat pemberani. Sementara perlakuan ifrad  terhadapnya akan melahirkan kebrutalan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan melahirkan sifat pengecut.
            Kekuatan berpikir, pabila dijaga keseimbangannya, akan melahirkan kebijaksanaan. Sementara perlakuan ifrad terhadapnya akan melahirkan kelicikan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan melahirkan kebodohan.
            Sedangkan, pabila manusia menjaga keseimbangan tiga kekuatan tersebut, ia akan menjadi manusia yang memiliki sifat keadilan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemuliaan dapat dilihat  dari kepemlikan mereka atas empat  sifat kesempurnaan tersebut: harga diri, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan.
            Sementara itu, tingkatan akhlak dalam  perjalanan manusia, dapat dilihat dari:
1.      Tujuannya  untuk mencapai sifat-sifat mulia dan terpuji di tengah-tengah (di mata) manusia.
2.      Tujuannya  untuk mendapatkan  keberuntungan nilai manusiawi dan bebas dari segala kerendahan.
3.      Tujuannya yang semata-mata mencari keridhaan Allah Swt. Ia tidak lagi mencari sifat-sifat terpuji di mata manusia atau kesempurnaan nilai-nilai manusiawi belaka. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat ke-165: Dan orang-orang yang beriman, mereka lebih besar lagi cintanya kepada Allah Swt.

Adab
            Ditinjau dari maknanya, adab adalah sikap dan bentuk perbuatan bajik, yang diharuskan oleh syariat maupun para bijak untuk melakukannya. Adab tidak berlaku bagi perbuatan di luar syariat dan tindakan terlarang lainnya. Karena itu, kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan tidak dapat dikatakan sebagai tindakan beradab.
Adab juga hanya berlaku bagi perbuatan yang didorong oleh ikhtiar bebas manusia. Sehingga,  sebagian manusia memiliki adab yang tidak dimiliki oleh sebagian manusia lainnya. Seperti makan, yang dalam Islam didahului dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdalah. Atau, shalat yang memiliki cara duduk yang khas, dan sebagainya.
            Pabila diperhatikan, adab merupakan tindakan bajik yang berasal dari ikhtiar manusia. Karenanya, berdasarkan nalar, tidak akan ditemui ikhtilaf di dalamnya, meskipun pada kenyataannya manusia terdiri dari berbagai bangsa dan agama dengan gaya dan cara hidup berbeda. Sehingga suatu adab terkadang dipandang baik bagi  golongan tertentu dan dipandang buruk oleh golongan lainnya.
            Dari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa bajik merupakan muqawwim (penguat) dari  definisi adab, sedangkan perbedaannya terdapat pada tujuan-tujuan dari setiap kaum (golongan) tersebut. Ya, adab merupakan cermin yang menggambarkan akhlak yang ada pada suatu kaum.
Sementara itu, adab sendiri tidaklah sama dengan akhlak. Pabila akhlak merupakan potensi yang tertanam di dalam ruh, maka adab adalah sikap bajik yang menjadi pakaian bagi perbuatan manusia, yang muncul dari sifat-sifat mereka yang berbeda. Karena itu, adab adalah cerminan akhlak manusia, sementara akhlak adalah hakim bagi sebuah masyarakat.
            Apabila adab mengikuti tujuan khusus yang diinginkan dalam kehidupan manusia, maka adab Ilahi, yang diajarkan Allah Swt kepada para nabi dan rasul-Nya, adalah sikap yang baik dalam amal-amal diniyah, yang menggambarkan tujuan-tujuan dan maksud agama tersebut. Artinya, bahwa ibadah adalah sesuai dengan masing-masing agama yang berbeda, berdasarkan tingkat kesempurnaan tujuan dari masing-masing agama tersebut.
            Islam, dengan kelengkapannya, berhubungan dengan semua sisi kehidupan manusia. Oleh karena itu, semua sisi kehidupan manusia diatur oleh adab tertentu. Dan tujuan umum di dalam Islam adalah bertauhid kepada Allah Swt dalam setiap tingkatan keyakinan dan tindakan manusia.
            Dengan ibarat lain, hendaknya  manusia meyakini bahwa mereka memiliki Tuhan, yang dari-Nya-lah segala sesuatu berasal dan kepada-Nya-lah segala sesuatu kembali. Dia-lah yang memiliki Asma al-Husna.
 
Ya, manusia harus menjalani kehidupan ini dengan perbuatan yang menggambarkan penghambaan kepada Allah Swt. Dengan demikian, adab Ilahi adalah sikap bertauhid dalam perbuatan.
                Dalam hal ini, kita perlu merenungkan dalam-dalam, bait munajat Imam Ali Zainal Abidin berikut ini, “Tuhanku, janganlah Engkau ajari aku adab dengan siksa-siksa-Mu…”[]

Adab dan akhlak dalam pandangan agama memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia. Juga di hadapan Allah dan Rasul-Nya bahkan di hadapan seluruh makhluk. Namun banyak orang mengentengkan masalah ini dan menjadikannya seakan-akan bagian luar dan jauh dari agama. Sesungguhnya tidak demikian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ “Sesungguhnya kamu berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4) Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Maknanya adalah, engkau berada di atas tabiat yang mulia.” Kata Al-Mawardi: “Ini makna yang nampak.” (Fathul Qadir hal. 1774). Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maknanya adalah bahwa pengamalan Al Qur’an, perintah dan larangannya telah menjadi tabiat dan akhlak beliau dan beliau meninggalkan tabiat bawaan, sehingga apapun yang Al Qur’an perintahkan maka beliau melaksanakannya dan apapun yang dilarangan beliau meninggalkan hal tersebut. Berikut hal-hal yang telah diberikan oleh Allah dari akhlak yang agung seperti sifat malu, dermawan, pemberani, pemaaf, lemah-lembut dan semua bentuk akhlak yang baik sebagaimana telah shahih dari Anas bin Malik Mutafaq ‘alaih: “Aku telah berkhidmat kepada Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan ‘ah’ sama sekali dan tidak pernah bertanya jika aku melakukan sesuatu kenapa aku melakukannya dan pada sesuatu yang tidak aku lakukan, beliau tidak mengatakan kenapa kamu tidak melakukannya? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik kelakuannya. Aku tidak pernah menyentuh sutra atau sesuatu pun yang lebih lembut dari tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku pun tidak pernah mencium misk dan minyak wangi yang lebih wangi dari keringat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/485) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِيْ اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ “Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh kan dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka dan musyawarahlah bersama mereka dalam urusan itu (dalam peperangan). kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah. Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” ( Ali ’Imran: 159) Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Makna ayat ini adalah bahwa Rasulullah ketika bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang lari dari perang Uhud dan tidak memperlakukan mereka dengan kasar, Allah menjelaskan bahwa beliau bisa melakukan hal itu disebabkan taufik dari Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/160) Ibnu Katsir mengatakan: Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Demikianlah akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus beliau dengannya.” Abdullah bin ‘Umar radhiallahu 'anhuma berkata: “Aku menjumpai sifat Rasulullah dalam kitab-kitab terdahulu bahwa beliau tidak berkata kasar, kotor, dan tidak pula berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas perbuatan jelek dengan kejelekan tetapi beliau sangat pemaaf.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/516) Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Akhlak yang baik bila menyertai seorang pemimpin di dunia, akan menarik orang-orang untuk masuk ke dalam agama dan mendorong mereka untuk cinta kepadanya, dan tentu dia akan mendapatkan pujian dan pahala yang khusus. Apabila akhlak yang jelek menyertai seorang pemimpin dalam agama, hal ini menyebabkan orang-orang lari dari agama dan membenci agama tersebut. Bersamaan dengan itu pelakunya mendapatkan cercaan dan adzab yang khusus. Kalau Allah mengatakan demikian kepada Rasul-Nya, maka lebih-lebih kepada orang lain. Bukankah termasuk dari kewajiban yang wajib dan perkara yang sangat penting adalah mengikuti akhlak-akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamdan bergaul bersama orang lain dengan cara meneladani pergaulan beliau berupa sifat kelemahlembutan, akhlak yang baik, dan penyayang dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menarik orang ke dalam agama Allah.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 121) Demikian beberapa ayat yang menjelaskan kedudukan adab dan akhlak di dalam agama berikut ucapan beberapa ulama ahli tafsir. Adapun dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terlalu banyak dan kita mencukupkan hadits dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan jelek dan berakhlaklah kamu kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dan selain beliau)1 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah: “Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik dalam ucapan ataupun perbuatan, hal itu adalah sangat baik dan perintah ini bisa menunjukkan wajib atau menunjukkan sunnah dan bisa diambil faidah darinya yaitu disyariatkannya bergaul bersama manusia dengan perilaku yang baik, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membatasi bagaimana caranya bergaul dengan akhlak, karena penerapan akhlak yang baik itu berbeda sesuai dengan kondisi orang. Ada akhlak di sisi seseorang baik dan di sisi orang lain jelek dan setiap orang yang berakal mengerti dan menimbang hal itu.” (Lihat Ta’liqat ‘ala Arba’in, hal. 41) Begitu pula bila kita melihat kitab-kitab karya para ulama, kita akan menemukan pembahasan tentang adab dan akhlak baik dalam kitab khusus ataupun dalam pembahasan tersendiri, secara global maupun secara terperinci. Contohnya, Al-Imam Al-Bukhari di dalam kitab Shahih beliau menulis sebuah judul pembahasan Kitab Adab. Lebih khusus lagi beliau memiliki kitab Al-Adab Al-Mufrad. Al-Imam Muslim di dalam kitab Shahih beliau menulis sebuah bab Kitab Al-Birr wash Shilah wal Adab. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya menulis pembahasan khusus yang terkait dengan adab berjudul Kitab Al-Adab. Al-Imam Ibnu Majah di dalam Sunan beliau menulis sebuah judul pembasan Kitab Adab. Al-Imam Al-Ajurri menulis sebuah kitab yang berjudul Akhlak Ulama, Ibnu Hazm memiliki karya berjudul Al-Akhlaq wa As-Sair fi Mudawaati An-Nufus, Badruddin Abu Ishaq Ibrahim memiliki karya berjudul Tadzkiratu As-Sami’ wa Mutakallim fi Adab Al-’Alim wa Al-Muta’allim. Dan masih banyak kitab ulama terdahulu yang memberikan perhatian tinggi terhadap permasalahan adab dan akhlak2 yang semua menunjukkan bahwa adab dan akhlak adalah perkara yang tidak bisa lepas dari agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik.” (HR. Ahmad dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu) 3 Begitu pun ulama di masa kini memberikan perhatian yang besar terhadap akhlak. Ini bisa dilihat pada karya-karya mereka seperti Asy-Syaikh Jamaluddin Al-Qashimi menulis sebuah kitab Jawami’ul Adab fi Akhlaq Al-Anjab, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memiliki risalah berjudul Makarimul Akhlaq, Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab beliau Al-Jami’ush Shahih menulis kitab Al-Adab. Seorang Da’i dan Akhlak Da’i merupakan manzilah (kedudukan) yang tinggi di hadapan Allah. Untuk mendapatkan gelar tersebut, tentu dengan memperbaiki hubungan dengan Allah dan menggali agama-Nya.4 Kata da’i dalam bahasa syariat memiliki dua makna. Pertama, da’i yang berada di tepi neraka jahannam sebagaimana dalam hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu 'anhu yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan juga hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu dalam riwayat Al-Imam Ahmad, dan mafhum dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah...”(An-Nahl :125) Kedua, da’i ilallah sebagaimana dalam ayat di atas. Adapun da’i ilallah, hendaknya menjadikan firman Allah di bawah ini sebagai perhiasan dalam langkahnya memikul amanat yang besar ini: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجَو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا “Sungguh telah ada pada diri Rasul suri tauladan yang baik bagi (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21) Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat cercaan bagi orang-orang yang tidak menyertai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam peperangan. Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, artinya bahwa Rasulullah telah mengorbankan diri untuk berperang dan keluar menuju Khandaq untuk membela agama Allah. Dan ayat ini walaupun sebabnya khusus namun yang dimaksud adalah umum dalam segala hal.” (Fathul Qadhir, hal. 1361) Ada beberapa perkara penting yang terkait dengan akhlak seorang alim dan da’i ilallah. Dibawakan oleh Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah di dalam kitab beliau Akhlaq Ulama (hal. 29): “Apabila Allah mengangkat seseorang di hadapan orang-orang yang beriman sebagai sosok yang berilmu dan sosok yang ilmunya dibutuhkan oleh setiap orang, maka ia berusaha menjadi orang yang tawadhu’ terhadap orang alim seperti dirinya atau orang di bawahnya. Adapun ketawadhu’annya terhadap orang yang sederajat dengannya muncul dalam bentuk rasa cinta kasih kepada mereka dan sangat berharap untuk dekat dengannya, dan bila orang tersebut tidak ada di sampingnya maka hati mereka selalu berkait dengannya.” Kemudian beliau mengatakan, termasuk dari sifat seorang alim (da’i ilallah) adalah tidak pernah mencari kedudukan di sisi para raja (penguasa) dan tidak menghinakan diri di hadapan mereka, menjaga ilmunya kecuali kepada pemiliknya, tidak pernah mengambil upah atas ilmunya, dan tidak pula dijadikan jembatan untuk terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dia tidak mendekat kepada pemilik dunia dan menjauhi orang-orang fakir, bahkan dia menjauhi ahli dunia dan merendah diri di hadapan orang fakir dan orang shalih untuk menyampaikan ilmu kepada mereka. Kalau dia memiliki sebuah majelis ilmu maka dia berperilaku baik kepada setiap orang yang duduk di majelisnya, lemah-lembut kepada orang yang bertanya, dan senantiasa menampilkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang rendah. Dari uraian di atas maka jelas bahwa Islam dengan kesempurnaan dan keluasan cakupannya dalam bentuk aqidah, manhaj, ibadah, akhlak maka tidak boleh untuk dipisah-pisah dan kita dituntut untuk mengamalkan Islam sesempurna mungkin. Akhlak tidak bisa dipisahkan dari manhaj, aqidah, atau ibadah. Artinya, dalam bermanhaj, beraqidah, dan beribadah butuh kepada akhlak yang baik yang mencerminkan pembawa bendera ilmu Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman As-Salafus Shalih.Wallahu a’lam


Baca Pembahasan Yang Terkait Di Bawah Ini...



0 KOMENTAR:

Post a Comment